24 Oktober 2010

Mengenal Definisi Dan Mekanisme Kerja Farmakokinetika

FARMACIA | Mengenal Definisi Dan Mekanisme Kerja Farmakokinetika Farmakokinetika telah didefinisikan sebagai sesuatu proses yang tubuh lakukan terhadap obat, mulai dari masuknya obat ke dalam tubuh sampai hilangnya obat dari tubuh, yang mencakup absorpsi, distribusi, metabolisme dan eksresi.

Dalam postingan Mengenal Definisi Dan Mekanisme Kerja Farmakokinetika ini, penulis coba menjelaskan bahwa tubuh kita dapat dianggap sebagai suatu ruangan yang terdiri dari beberapa kompartemen yang terpisah oleh membran sel. Sedangkan proses absorpsi, distribusi dan eksresi obat dalam tubuh hakekatnya berlangsung dengan mekanisme yang sama, karena proses ini tergantung pada lintasan obat melalui rangkaian membran tersebut.

Adapun Mekanisme Kerja Farmakokinetika untuk melintasi membran sel ini ada dua cara :

1. Secara Pasif, artinya tanpa menggunakan energi.

a. Filtrasi, melalui pori-pori kecil dari membran, misalnya air dan zat hidrofil
b. Difusi, zat melarut dalam lapisan lemak dari membran sel. Contoh : ion anorganik

2. Secara Aktif, artinya menggunakan energi.

Pengangkutan dilakukan dengan zat hidrofil (makromolekul atau ion) pada enzim pengankut spesifik. Setelah melalui membran, obat dilepaskan lagi. Cepatnya penerusan tidak tergantung pada konsentrasi obat. Contoh : glukosa, asam lemak, garam besi, vitamin B1, B2 dan B12.

Demikian artikel Mengenal Definisi Dan Mekanisme Kerja Farmakokinetika ini. Adapun beberapa artikel lain yang berkaitan dengan artikel ini, silakan baca : Cara Pemberian Obat Ke Pasien, Mengenal Pharmaceutical dan Biological Availability, dan Pengertian dan Penjelasan Ilmu Biofarmasi. Terima kasih.

28 September 2010

Cara Pemberian Obat Ke Pasien

FARMACIA | Cara Pemberian & Minum Obat – Banyak obat, banyak juga cara pemberiannya kepada pasien. Sediaan per-oral sering kita temukan dalam perkembangan pemberian obat. Namun, banyak Cara Pemberian & Minum Obat ke pasien selain per-oral. Mengapa hal ini terjadi?

Cara Pemberian Obat Ke Pasien didasarkan beberapa faktor, diantaranya : Faktor Formulasi. Faktor zat aktif serta stabilitasnya menjadi alasan bahwa obat dibuat dalam sediaan yang cocok untuk zat aktif tersebut.

Pemberian obat ikut juga dalam menentukan cepat lambatnya dan lengkap tidaknya resorpsi suatu obat. Tergantung dari efek yang diinginkan, yaitu efek sistemik (di seluruh tubuh) atau efek lokal (setempat) dan keadaan pasien serta sifat-sifat fisiko-kimiawi obat, dapat dipilih di antara berbagai cara untuk memberikan obat.

A. Untuk Memberikan Efek Sistemik (Obat disebar ke seluruh tubuh)

1. Oral :

– Pemberiannya melalui mulut

– Mudah dan aman pemakaiannya, lazim dan praktis

– Tidak semua obat dapat diberikan per-oral, misalnya : Obat yang bersifat merangsang (emetin, aminofilin) atau yang diuraikan oleh getah lambung (benzilpenisilin, insulin dan oksitoksin)

– Dapat terjadi inaktivasi oleh hati sebelum diedarkan ke tempat kerjanya

– Dapat juga untuk mencapai efek lokal misalnya : obat cacing, obat diagnostik untuk pemotretan lambung – usus

– Baik sekali untuk mengobati infeksi usus

– Bentuk sediaan oral : Tablet, Kapsul, Obat hisap, Sirup dan Tetesan

2. Oromucosal :

Pemberiannya melalui mucosa di rongga mulut. Ada dua macam cara, yaitu :

a. Sub Lingual

– Obat ditaruh dibawah lidah

– Tidak melalui hati sehingga tidak diinaktif

– Dari selaput di bawah lidah langsung ke dalam aliran darah, sehingga efek yang dicapai lebih cepat misalnya : Pada pasien serangan Jantung dan Asma

– Keberatannya kurang praktis untuk digunakan terus menerus dan dapat merangsang selaput lendir mulut

– Hanya untuk obat yang bersifat lipofil

– Bentuknya tablet kecil atau spray, contoh : Isosorbid Tablet

b. Bucal

– Obat diletakkan diantara pipi dan gusi

– Obat langsung masuk ke dalam aliran darah

– Misalnya obat untuk mempercepat kelahiran bila tidak ada kontraksi uterus, contoh : Sandopart Tablet

3. Injeksi :

– Pemberiannya dengan jalan suntikkan

– Efek yang diperoleh cepat, kuat dan lengkap

– Keberatannya lebih banyak dari pasien

– Alat suntik harus steril dan dapat merusak pembuluh darah atau syaraf jika tempat penyuntikkannya tidak tepat

– Terutama untuk obat yang merangsang atau dirusak oleh getah lambung atau tidak tidak diresorpsi oleh dinding usus

Jenis Injeksi lebih kurang ada 10 :

a. Subcutan/Hipodermal (sc) : Penyuntikkan dibawah kulit, Obatnya tidak mernagsang dan larut dalam air atau minyak, Efeknya agak lambat dan dapat digunakan sendiri misalnya : penyuntikan insulin pada penderita diabetes.

b. Intramuskular (im) : Penyuntikan dilakukan dalam otot misalnya, penyuntikan antibiotika atau dimana tidak banyak terdapat pembuluh darah dan syaraf, misalnya otot pantat atau lengan atas

c. Intravena (iv) : Penyuntikan dilakukan ke dalam pembuluh darah, Reaksinya sangat cepat yaitu waktu satu peredaran darah, obat sudah beredar ke seluruh tubuh atau jaringan, Dapat menimbulkan reaksi-reaksi hebat seperti turunnya tekanan darah secara mendadak, shock, dsb. Infus intravena dengan obat sering dilakukan di rumah sakit dalam keadaan darurat atau dengan obat yang cepat metabolismenya dan eksresinya guna mencapai kadar plasma yang tetap tinggi

d. Intra arteri (ia) : Penyuntikan dilakukan pada pembuluh nadi, Dilakukan untuk membanjiri suatu organ misalnya pada Kanker Hati

e. Intra cutan (ic) : Penyuntikkan dilakukan dalam kulit, Absorpsi sangat perlahan misalnya pada tuberculin test dati Mantoux

f. Intra lumbal : Penyuntikan dilakukan ke dalam ruas pinggang (sumsum tulang belakang) misalnya untuk anestesi umum

g. Intra peritonial : Penyuntikan ke dalam selaput perut

h. Intra cardial : Penyuntikan ke dalam jantung

i. Intra pleural :Penyuntikan ke dalam rongga pleura (paru-paru)

k. Intra articulair : Penyuntikan ke dalam celah-celah sendi

4. Implantasi :

– Bentuk oral pellet steril, obat dicangkokkan dibawah kulit, terutama digunakan untuk efek sistemik lama, misalnya obat-obat hormon kelamin (estradiol dan testoteron)

– Resorpsinya lambat, satu pellet dapat melepaskan zat aktifnya secara perlahan-lahan selama 3-5 bulan lamanya

5. Rectal :

– Pemberian obat melalui rectal (dubur)

– Bentuknya suppositoria dan clysma (obat pompa)

– Baik sekali untuk obat yang dirusak oleh asam lambung

– Diberikan untuk mencapai takaran yang cepat dan tepat

– Efek sistemiknya lebih cepat dan lebih besar bila dibandingkan dengan peroral, berhubung pembuluh-pembuluh darah pertama. Contoh : pada pengobatan asma (amecain suppositoria) ; pada bayi (stesolid rectal, dalam pengobatan kejang akut)

– Tetapi bentuk suppositoria dan clysma sering digunakan untuk efek lokal misalnya untuk wasir dan laxativ

– Pemberian obat melalui rektal dapat dioleskan pada permukaan rektal berupa salep dan hanya mempunyai efek lokal

6. Transdermal :

– Cara pemakaian melalui permukaan kulit, berupa plester. Obat menyerap secara perlahan dan kontinyu, masuk ke sistem peredaran darah, langsung ke jantung

– Umumnya untuk gangguan jantung misalnya angina pectoris, tiap dosis dapat bertahan 24 jam. Cth : Nitrodisk dan Nitroderm T.T.S. (therapeutic transdermal system)

B. Untuk Memberikan Efek Lokal (Pemakaian Setempat)

1. Intranasal :

– Obat diberikan melalui selaput lendir hidung

– Digunakan untuk menciutkan selaput/mukosa hidung yang membengkak (otrivin nasal drop)

– Bentuk sediaan : Drop dan Spray

– Cara ini dapat digunakan untuk efek sistemik misalnya untuk melancarkan pengeluaran ASI cth : Syntocinon nasal spray

2. Inhalasi :

– Obat diberikan untuk disedot melalui hidung atau mulut atau disemprotkan

– Penyerapan dapat terjadi pada selaput mulut, tenggorokan dan pernafasan

– Bentuk sediaan : Gas dan Zat padat, tetapi bisa juga mempunyai efek sistemik. Bentuk inhalasi ini bisa dalam wadah yang diberi tekanan dan mengandung zat pemancur (aerosol, cth : Alupent Metered Aerosol

3. Mukosa Mata Dan telinga :

– Obat diberikan melalui selaput/mukosa mata atau telinga, bentuk drop dan salep

– Obat dapat diresorpsi ke dalam darah dan menimbulkan efek teknis

4. Intra Vaginal :

– Obat diberikan melalui selaput lendir/mukosa vagina

– Diberikan pada antifungi dan anti kehamilan

– Bentuknya : Tablet, Salep, Krim dan Cairan bilasan

5. Kulit (Percutan) :

– Obat diberikan dengan jalan mengoleskan pada permukaan kulit

– Kulit yang sehat sukar sekali dimasuki obat, tetapi bila terjadi kerusakan resorpsi dapat berlangsung

– Bentuk obat umunya salep dan krim

Demikian jabaran tentang Cara Pemberian Obat pada pasien dari sisi kefarmasian. Semoga dapat membantu.

20 September 2010

Mengenal Farmaceutical Dan Biological Availability

FARMACIA | Mengenal Farmaceutical Dan Biological Availability – Berkaitan dengan artikel sebelumnya tentang “Pengertian Dan Penjelasan Biofarmasi“, kini kita membahas tentang aspek yang masih berkaitan, yakni Fase Farmaceutical Dan Biological Availability serta Fase lain yang terakit dalam Biofarmasi.

Definisi Farmaceutical Availability (Ketersediaan Farmasi)

Farmaceutical Availability merupakan ukuran waktu yang diperlukan untuk obat yang dilepaskan dari bentuk pemberiannya dan tersedia untuk proses resorpsi, sehingga bentuk obat padat memerlukan ukuran waktu yang lebih panjang dari pada bentuk obat cair (F.A. tablet lebih besar dari pada F.A. sirup). Banyak penyelidikan tentang hal ini telah dilangsungkan dengan tablet sebagai bentuk sediaan yang paling umum.

Tablet –> Granul Terlepas –> Zat Aktif Terlepas –> Zat Aktif Melarut

Keterangan Skema :
Setelah ditelam, tablet di dalam lambung akan pecah (disintegrasi) menjadi banyak granul kecil yang terdiri zat-zat aktif dengan antara lain zat pengisi dan pelekat. Kemudian granul-granul ini pecah pula, zat aktif terlepas, dan jika zat larutnya cukup besar akan larut dalam cairan lambung atau usus. Baru setelah obat larut, proses resorpsi oleh usus dapat dimulai, proses yang disebut Farmaceutical Availability.

Jelaslah dari uraian diatas, bahwa obat bila diberikan dalam bentuk larutan akan mencapai keadaan Farmaceutical Availability dalam waktu yang lebih singkat daripada tablet.

Kecepatan melarut obat tergantung dari berbagai bentuk sediaan dengan urutan sebagai berikut :

Larutan – Suspensi – Emulsi – Serbuk – Kapsul – Tablet – Enterik Coated – Tablet Kerja Panjang

Definisi Biological Availability (Ketersediaan Hayati)

Bio-Avalability adalah prosentase obat yang diresorspi tubuh dari suatu dosis yang diberikan dan tersedia untuk melakukan efek terapetiknya

Definisi Therapeutical Equivalent (Kesetaraan Terapeutika)

Therapeutical Equivalent adalah Sayarat yang harus dipenuhi oleh suatu obat patent yang meliputi kecepatan larut dan jumlah kadar yang harus dicapai di dalam darah. Kesetaraan terapeutika dapat terjadi pada produksi dari pabrik yang berbeda dan pada batch yang berbeda dari suatu pabrik.

Definisi Bioassay dan Standarisasi

Bioassay adalah Cara menentukan aktifitas obat dengan menggunakan makhluk hidup, misalnya dengan binatang percobaan. Standarisasi adalah kekuatan obat yang dinyatakan dengan satuan Internasional yang dikeluarkan oleh WHO. Ukuran-ukuran standar ini disimpan di London dan Copenhagen.

Demikian pengenalan beberapa istilah Farmaceutical Dan Biological Availability serta istilah lainnya yang terkait. Semoga membantu dan bermanfaat.

20 September 2010

Pengertian Dan Penjelasan Ilmu Biofarmasi

FARMACIA | Pengertian Biofarmasi Biofarmasi adalah ilmu yang mempelajari / menyelidiki pengaruh-pengaruh pembuatan sediaan atas kegiatan terapetik obat. Sekitar tahun 1960 para sarjana mulai sadar bahwa efek obat tidak tergantung semata-mata pada faktor farmakologi, melainkan juga faktor-faktor formulasi yang dapat mengubah efek obat dalam tubuh, antara lain :

– Bentuk fisik zat aktif (amorf, kristal atau kehalusannya)
– Keadaan kimiawi (ester, garam, garam kompleks, dsb)
– Zat pembantu (pengisi, pelekat, pelicin, pelindung, dsb)
– Proses teknik yang digunakan untuk membuat sediaan (tekanan tablet, alat emulgator, dsb)

Sebelum obat yang diberikan pada pasien sampai pada tujuannya dalam tubuh, yaitu tempat kerjanya atau target site, obat harus mengalami banyak proses. Dalam garis besar proses-proses ini dapat dibagi dalam tiga tingkat, yaitu Fase Biofarmasi, Fase Farmakodinamik, Fase Farmakokinetika, yang mana dapat digambarkan dengan skema berikut untuk obat dalam bentuk tablet yaitu :

Farmaceutical availability — Biological availability :

Tablet dengan Zat Aktif –> (FASE BIOFARMASI) Tablet pecah, granul pecah, zat aktif lepas dan larut –> Obat tersedia untuk resorpsi –> Adsorpsi, Metabolisme, Distribusi, Ekskresi (FASE FARMAKOKINETIKA) –> Obat tersedia untuk bekerja –> Interaksi dengan reseptor di tempat kerja (FASE FARMAKODINAMIKA) –> EFEK

Keterangan Skema diatas :

Fase Biofarmasi atau Farmasetika :
Fase ini meliputi waktu mulai penggunaan sediaan obat melalui mulut hingga pelepasan zat aktifnya ke dalam cairan tubuh. Misalnya : tablet hanya mengandung 5-10% zat aktif, 90% zat tambahan yang terdiri dari 80% zat pengencer, zat pengikat dan 10% zat penghancur tablet. Yang penting dalam hubungannya dengan fase ini adalah kesediaan farmasi dari zat aktifnya, yaitu obat siap diabsorpsi.

Fase Farmakokinetika
Fase ini meliputi waktu selama obat diangkut ke organ yang ditentukan, setelah obat dilepas dari bentuk sediaan. Obat harus diabsorpsi ke dalam darah, yang segera akan didistribusikan melalui tiap-tiap jaringan tubuh. Dalam darah, obat dapat terikat protein darah dan mengalami metabolisme, tetapi hanya sedikit yang tersdia untuk diikat pada struktur yang telah ditentukan. Perlu diketahui bahwa jaringan yang ditentukan tidak perlu identik dengan reseptor.

Fase Farmakodinamika
Bila obat berinteraksi dengan sisi reseptor, biasanya protein membran, akan menimbulkan respon biologik. Tujuan pokok dari fase ini adalah optimalisasi dari efek biologik.

Demikian Pengertian Biofarmasi secara umum dari “nasib” obat dari mulai diminum sampai menimbulkan efek terapi untuk kita. Semoga bermanfaat.

20 September 2010

Pengertian Dan Penggolongan Obat Kemoterapeutika

FARMACIA | Pengertian Obat Kemoterapeutika – Jika berbicara tentang obat kimia, maka kita tidak akan lepas dengan yang namanya obat kimia. Kemoterapeutika adalah salah satu contohnya preparat yang kita kenal sekarang ini. Pengertian Obat Kemoterapeutika adalah Obat kimia yang dapat memberantas dan menyembuhkan penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh hama-hama, seperti : Protozoa, Bakteri, Virus tanpa merugikan manusia.

Yang termasuk Obat Kemoterapeutika antara lain :

1. Definisi Obat Antibiotika : Zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup terutama fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat memastikan atau menghambat pertumbuhan banyak bakteri dan beberapa virus besar sedangkan toksisitas bagi manusia relatif kecil.

2. Definisi Obat Antineoplastikum : Zat yang dapat menghentikan pertumbuhan pesat dari sel-sel maligne/sel yang tumbuh secara tidak wajar (kanker).

3. Definisi Obat Antilepra : Obat yang menghentikan penyakit infeksi kronis terutama yag merusak jaringan syaraf.

4. Definisi Obat Fingistatika : Obat yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan jamur atau fungi.

5. Definisi Obat TBC : Obat kemoterapi yang dapat menghentikan suatu penyakit yang menular yang biasanya mulai di dalam paru-paru dengan benjolan kecil (tubercel)

6. Definisi Obat Sulfa : Obat kemoterapi yang struktur kimianya mirip pABA (para amino benzoic acid), bahan makanan dari bakteri, kalau bakteri mengkonsumsi sulfa maka bakteri tersebut akan mati.

7. Definisi Obat Malaria : Kemoterapi yang mampu membunuh/menghentikan penyakit infeksi dengan demam berkala yang disebabkan oleh suatu parasit bersel tunggal (protozoa) dan ditularkan oleh nyamuk anopheles.

Demikian beberapa definisi bagian Obat Kemoterapeutika yang dikenal di dunia farmasi dan terapi. Semoga bermanfaat.

20 September 2010

Istilah Obat Gangguan Jantung Dan Pembuluh Darah

FARMACIA | Istilah Obat Gangguan Jantung Dan Pembuluh Darah – Beberapa istilah yang sering disebut dalam pembahasan di gangguan jantung dan pembuluh darah sering kita dengar. Namun apa saja yang termasuk obat gangguan jantung dan pembuluh darah, yakni antara lain :

1. Definisi Obat Diuretika : Obat yang dapat memperbanyak pengeluaran air kemih akibat pengaruh langsung terhadap ginjal.

2. Definisi Obat Cardiaca : Obat yang secara langsung dapat memulihkan fungsi otot jantung yang terganggu ke keadaan normal.

3. Definisi Obat Vasodilator : Obat yang berkhasiat mempelabar pembuluh-pembuluh darah.

4. Definisi Obat Antihipertensi : Obat yang dapat menurunkan kedaan tekanan darah tinggi ke keadaan tekanan darah normal.

5. Definisi Obat Anti Hiperkolesterol : Obat yang dapat menurunkan kelebihan kadar kolesterol tubuh ke keadaan kadar kolesterol normal.

6. Definisi Obat Antianemia / Hematonica : Obat pembentuk darah yaitu suatu obat yang khusus digunakan untuk menstimulir atau memperbaiki proses pembentukan eritrosit (sel darah merah).

Demikian beberapa istilah Obat Gangguan Pembuluh Darah yang ada di dunia farmasi. Semoga dapat memberikan sutau gambaran pada kita tentang obat gangguan pembuluh darah ini.

6 September 2010

Definisi Obat Berdasarkan Target Susunan Syaraf Pusat (SSP)

FARMACIA | Definisi Obat Berdasarkan SSP – Beberapa definisi obat yang diindikasikan untuk beberapa penyakit, jika klasifikasikan menurut daerah tempat terjadinya penyakit diantaranya yakni Susunan Syaraf Pusat (SSP). Berikut ini adalah obat yang bekerja di SSP, diantaranya :

Obat Analgetika dan Antipiretika : Obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kasadaran. Sedangkan bila menurunkan panas disebut Antipiretika.

ObatAntimigrain : Obat yang mengobati penyakit berciri serangan-serangan berkala dari nyeri hebat pada satu sisi.

Obat Anti Reumatik : Obat yang digunakan untuk mengobati atau menghilangkan rasa nyeri pada sendi/otot, disebut juga anti encok.

Obat Anestetik : a). Anestetik Lokal : Obat yang merintangi secara reversible penerusan impuls-impuls syaraf ke SSP (susunan syaraf pusat) pada kegunaan lokal dengan demikian dapat menghilangkan rasa nyeri, gatal-gatal, panas atau dingin. b). Anestetika Umum : Obat yang dapat menimbulkan suatu keadaan depresi pada pusat-pusat syaraf tertentu yang bersifat reversible, dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan.

Hipnotika : Obat yang dalam dosis terapi dapat mempertinggi keinginan tubuh normal untuk tidur. Bila dosis rendah disebut sedativa (obat pereda/penenang)

Obat Anti Depresan : Obat yang dapat memperbaiki suasana jiwa dapat menghilangkan atau meringankan gejala-gejala keadaan murung yang tidak disebabkan oleh kesulitan sosial, ekonomi dan obat-obatan serta penyakit.

Neuroleptika : Obat yang dapat menekan fungsi-fungsi psikis (jiwa) tertentu tanpa menekan fungsi-fungsi umum seperti berfikir dan berkelakuan normal.

Obat Antiepileptika : Obat yang dapat menghentikan penyakit ayan, yaitu suatu penyakit gangguan syaraf yang ditimbul secara tiba-tiba dan berkala, adakalanya disertai perubahan-perubahan kesadaran.

Obat Antiemetika : Obat untuk mencegah / menghentikan muntah akibat stimulasi pusat muntah yang disebabkan oleh rangsangan lambung usus, melalui CTZ (Cheme Receptor Trigger Zone) dan melalui kulit otak.

Demikian penjelasan obat berdasarkan daerah kerjanya di Susunan Syaraf Pusat (SSP). Semoga bermanfaat.

5 September 2010

Definisi Farmakope Indonesia

FARMACIA | Definisi FarmakopeFarmakope dapat diartikan sebagai Buku resmi yang ditetapkan hukum dan memuat standarisasi obat-obat penting serta persyaratannya tentang identitas, kadar kemurnian dsb. Begitu pula metode-metode analisa dan resep-resep sediaan farmasi.

Di dalam Farmakope Indonesia dicantumkan pula nama lain, nama generik dan nama kimia. Nama latin adalah nama obat dalam ejaan latin. Nama Generik (International Non-proprieatary name / INN) adalah nama umum yang dipakai di semua negara tanpa melanggar hak patent yang berlaku untuk obat tersebut. Nama kimia adalah nama obat yang didasarkan nama unsur-unsur kimia yang membentuknya.

Selain buku Farmakope, juga digunakan secara khusus buku lain antara lain Formularium Nasional dan buku Informasi Spesialis Obat (ISO) yang memuat nama-nama patent dan atau spesialit. Obat patent ialah obat produk dari suatu perusahaan dengan nama khas yang dilindungi hukum.

Demikian artikel mengenal Farmakope Indonesia dan Buku Resmi Lain yang menjadi standar obat di Indonesia.

5 September 2010

Istilah-Istilah Dalam Dunia Farmasi

FARMACIA | Daftar Istilah Farmasi – Dalam mempelajari obat-obatan atau farmasi banyak aspek yang harus diketahui. Beberapa aspek tadi erat hubungannya dengan beberapa definisi yang dikenal di farmasi, antara lain :

Definisi Farmakologi (luas): adalah Ilmu yang mempelajari sejarah, asal usul obat, sifat fisika dan kimiawi. Cara mencampur dan membuat obat, efek terhadap fungsi biokimia dan faal, cara kerja, absorpsi, distribusi, biotransformasi dan eksresi, penggunaan dalam klinik dan efek toksisnya.

Definisi Farmakologi (sempit): adalah Ilmu yang mempelajari penggunaan obat untuk diagnosis, pencegahan dan penyembuhan penyakit.

Definisi Farmakognosi : adalah Ilmu yang mempelajari pengetahuan dan pengenalan bentuk mikroskopik dan makroskopik berbagai tumbuha-tumbuhan, hewani, mineral dan organisme lainnya yang dapat digunakan dalam pengobatan.

Definisi Biofarmasi : Penyelidikan tentang pengaruh formulasi obat terhadap efek terapeutiknya sehingga bentuk sediaan obat harus dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan efek yang optimal.

Definisi Farmasi : Ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur dan formulasi.

Definisi Farmakokinetika : Ilmu yang mempelajari cara kerja obat, efek obat terhadap fungsi berbagai organ dan pengaruh obat terhadap reaksi biokimia dan struktur organ tubuh.

Definisi Farmakoterapi : Ilmu yang mempelajari penggunaan obat untuk menyembuhkan penyakit.

Definisi Kemoterapi : adalah Cara pengobatan penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen dengan zat kimia

Definisi Obat Kemoterapi : Adalah obat kimia yang terutama bekerja terhadap kuman parasit dan mikroba patogen lainnya

Definisi Farmakodinamika : Adalah obat yang terutama bekerja terhadap tuan rumah dengan

Definisi Obat Diagnostik : Adalah obat yang membantu untuk melakukan diagnostik (pengenalan penyakit)

Definisi Toksikologi : Adalah Ilmu yang mempelajari keracunan oleh berbagai zat kimia terutama obat

Demikian Istilah-istilah dalam dunia farmasi. Semoga definisi-definisi dapat membantu kita dalam memahami farmasi secara keselurahan nantinya.

5 September 2010

Sejarah Perkembangan Obat

FARMACIA | Definisi Obat – Dalam tulisan pertama ini, penulis akan menerangkan secara dasar, apa yang dimaksud dengan Obat. Bahwa Obat dapat didefinisikan sebagai Semua zat baik kimia, nabati maupun hewan yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan atau mencegah penyakit dan gejalanya.

Obat yang pertama digunakan ialah obat yang berasal dari tanaman yang lebih dikenal dengan sebutan obat tradisional (jamu). Obat nabati ini digunakan sebagai rebusan atau ekstrak dengan aktivitas yang seringkali berbeda-beda tergantung dari asal tanaman dan cara pembuatannya.

Hal ini dianggap kurang memuaskan, maka lambat laun ahli kimia mencoba mengisolasi zat-zat aktif yang terkandung dalam tanaman, sehingga menghasilkan serangkaian zat-zat kimia sebagai obat, misalnya : efedrin dari tanaman Ephedra vulgaris ; atropin dari Atropa belladona ; morfin dari Papaver somniferum ; digoksin dari Digitalis lanata ; reserpin dari Rauwolfia serpentina, dsb.

Perkembangan sintetis obat baru dimulai pada abad XX dengan dibuatnya sintetis-sintetis seperti : asetosal disusul kemudian dengan sejumlah zat-zat lainnya. Pendrobakan sejati baru dicapai dengan penemuan dan penggunaan obat-obat kemoterapetik sulfanilamid (1935) dan penisilin (1940). Sejak tahun 1945 Ilmu kimia, fisika dan kedokteran berkembangan dengan pesat dan hal ini menguntungkan sekali bagi penyelidikan yang sistematis dari obat-obat baru.

Penemuan-penemuan baru menghasilkan lebih 500 macam obat setiap tahunnya, sehingga obat-obat kuno makin terdesak oleh obat-obat baru. Kebanyakan obat-obat yang kini digunakan ditemukan sekitar 20 tahun yang lalu, sedangkan obat-obat kuno ditinggalkan dan diganti dengan obat modern tersebut.